Harga karet naik dipicu permintaan di China

JAKARTA (Bisnis.com): Harga karet naik hingga tertinggi dua pekan dipicu spekulasi tingginya permintaan dari China, konsumen terbesar dunia.

Prediksi meningkatnya permintaan dari China ini terlontar setelah Sumitomo Rubber Industries Ltd menyatakan produksi ban di negeri itu diprediksi bertumbuh.

Harga kontrak di Tokyo menanjak 2,1% hingga ke level tertinggi sejak 12 Juli. Harga sudah naik 1,4% pada bulan ini, kenaikan bulanan tertinggi pertamanya sejak Maret.

Sumitomo Rubber, produsen ban terbesar kedua di Jepang setelah Bridgestone Corp, akan menginvestasikan US$297 juta untuk mendirikan pabrik di provinsi Hunan, menurut Bloomberg. Hal ini akan menjadi pabrik kedua di China dan akan mulai berproduksi pada Juli 2012.

“Tambahan dari pabrik ban ini akan meningkatkan permintaan karet untuk bahan dasar di tengah tingginya ekspansi ekonomi negeri ini,” kata Hisaaki Tasaka, analis pada perusahaan broker ACE Koeki Co di Tokyo seperti dikutip Bloomberg.

Harga kontrak karet untuk pengiriman Januari naik 5,7 yen menjadi 274,3 yen per kilogram (US$3.138 per ton) di Tokyo Commodity Exchange.

Asosiasi negara-negara produsen karet dunia (Association of Natural Rubber Producing Countries/ANRPC) menyatakan konsumsi karet alam China periode Januari-Mei 2010 naik 28% menjadi 1,42 juta ton. Sepanjang tahun ini diperkirakan konsumsi menjadi 3,35 juta ton atau menanjak dari konsumsi tahun lalu yang masih 3,04 juta ton.

Kenaikan terbatas setelah saham di Asia melanjutkan penurunan setelah Federal Reserve menyatakan pertumbuhan ekonomi AS melambat di sejumlah distrik, sehingga meningkatkan kekhawatiran pemulihan ekonomi melambat.

Dalam laporan Federal Reserve, bank sentral AS, yang tertuang di Beige Book mengatakan pertumbuhan ekonomi di beberapa kawasan AS melambat dalam dua bulan terakhir, tertekan oleh properti komersial dan habisnya program insentif pajak untuk pembeli rumah.

Beige Book adalah rangkuman kondisi ekonomi di 12 kawasan atau distrik the Fed. Beige Book edisi bulan ini menggambarkan pemulihan yang melambat dan kondisi sektor perumahan yang semakin lesu.(yn)

Leave a Response

Please note: comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.