Harga CPO tertekan

JAKARTA: Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) turun untuk kedua harinya pasca koreksi harga minyak mentah dan minyak kedelai. Minyak kedelai adalah subtitusi dari CPO.

Koreksi juga dipicu spekulasi persediaan CPO di Malaysia naik. Untuk kontrak pengiriman November harga CPO turun 0,9% menjadi 2.653 ringgit (US$838) per ton di Malaysia Derivatives Exchange.

Harga sempat menyentuh rekor tertinggi 2.663 ringgit pada perdagangan Senin. Di Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX), harga CPO untuk kontrak November, teraktif, turun 90 poin menjadi Rp7.540 per kg.

“CPO saat ini mendapat tekanan dari pasar lainnya seperti kedelai dan kontrak di Dalian China. Koreksi harga kali ini bagus setelah melonjak terlalu tinggi. Harga tampaknya sudah terlalu tinggi,” kata Ryan Long, diler OSK Investment Bank Bhd seperti dikutip Bloomberg, hari ini.

Harga CPO sudah menanjak 17% dari level terendah 18 bulan pada 17 Juli dipicu perubahan cuaca yang akan menurunkan produksi di Indonesia dan Malaysia, produsen CPO utama.

Selain itu, lahan tanaman kedelai di AS terkena dampak musim kering. Harga kedelai turun untuk pertama kali dalam tiga sesi di Chicago Board of Trade dipicu spekulasi harga minyak yang turun akan mengurangi permintaan akan biofuel. Untuk kontrakĀ  November harga turun 1,2% menjadi US$10,31 per bushel yang merupakan penurunan pertama sejak 10 Agustus.

Di Dalian Commodity Exchange, untuk kontrak pengiriman Januari, harga juga turun 1,1% menjadi 7.2908 yuan (US$1.061) per ton, penurunan pertama dalam empat sesi. Kontrak kedelai pengiriman Mei juga turun 1,5% menjadi 8.214 yuan.

Ekspor CPO Malaysia turun 16,4% pada 1-15 Agustus 2010 menjadi 592.094 ton sedangkan pada 1-15 Juli masih 708.384 ton, menurut data surveyor kargo Societe Generale de Surveillance. Pengiriman juga turun 7,4% menjadi 619.435 ton dari 668.573 ton pada periode yang sama, menurut data Intertek.”Ekspor turun dan kami melihat persediaan akan naik di Malaysia,” kata Long.

Harga minyak mentah turun hingga hampir menyentuh level terendah lima pekan yakni ke level US$75,69 per barel untuk kontrak pengiriman September. Harga sempat menyentuh level US$75,24, terendah sejak 12 Juli pada sehari lalu. “Koreksi harga minyak mentah ini karena pelemahan data ekonomi Jepang dan AS membuat kekhawatiran mengenai prospek permintaan energi, ditambah tekanan dari pelemahan dolar AS,” kata Heri, analis riset Valbury Asia Futures.(mmh)

Oleh: Berliana Elisabeth S. (Bisnis.com)

Leave a Response

Please note: comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.