Home | E-Procurement | Karir | Hubungi Kami | News Alert | Peta Situs

Mendulang Minyak di Seberang Lahan

Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi mencatat, luas perkebunan kelapa sawit didaerahnya sampai tahun 2010 mencapai 66.593,70 Ha dengan produksi 889.410 ton TBS per tahun. Artinya setiap bulan dihasilkan 74.118 ton TBS. Produksi ini cendrung meningkat setiap tahun sejalan dengan semakin berkembangnya luas perkebunan kelapa sawit milik masyarakat dan perkebunan swasta.

Dari total luas lahan perkebunan kelapa sawit itu, perkebunan rakyat dan swasta menempati angka terbesar berkisar 47,90% dan 48.60%. Selebihnya perkebunan yang dikelola oleh BUMN, yakni PTP Nusantara VI (Persero)      3,50 %.

Kendati pengelolaan dari sisi luasnya jauh lebih kecil dibandingkan perkebunan swasta nasional, tetapi tidak menyurutkan langkah PTPN VI untuk berkiprah di Bumi “ Serentak Bak Regam “ ini.  Buktinya pada bulan Nopember 2010 yang lalu, PTP Nusantara VI (Persero) membangun Pabrik Kelapa Sawit dengan kapasitas 30 ton TBS per jam (ext. 45 ton TBS per jam) di Desa Aur Gading, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus beserta Komisaris dan Direksi PTPN VI.

 

Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Aur Gading ini direncanakan untuk menampung produksi buah sawit  dari 3 unit usaha milik PTPN VI yakni Unit Usaha Durian Luncuk, Unit Usaha Batang Hari dan Unit Usaha Bukit Cermin. Disamping itu, juga untuk menampung produksi dari petani-petani kelapa sawit yang berada disekitar pabrik, seperti dari Desa Durian Luncuk dan Desa Aur Gading. Tetapi sumber pasokan itu ternyata melebar sampai ke daerah lainnya.

“ Kami juga menerima TBS dari daerah Sarolangun, Mersam dan Bayung Lencir “ sebut Bahruddin Tarigan, Manejer PKS Aur Gading.

Meluasnya sumber pasokan TBS ini tentu tidak terlepas dari kondisi pabrik yang masih baru serta perlakuan komunikasi yang baik oleh pihak manajemen terhadap pemasok yang telah dibangun sejak awal beroperasinya pabrik.

“ Komunikasi ini kami bangun berdasarkan kemitraan yang saling menguntungkan “ imbuh Asisten SDM/Umumnya, Herilanto.

Herilanto mengaku bahwa dalam kondisi sekarang, pabrik mendapat pasokan sekitar 250 – 300 ton TBS per hari yang berasal dari produksi petani. Sedangkan produksi inti mencapai 350 – 400 ton per hari. Dengan pasokan rata-rata 700 ton TBS per hari tersebut, PKS Aur Gading bergerak bak sebuah kapal yang penuh harapan menuju samudra pasar bebas.

 

Sistem Vertical Sterilizer

 

Pabrik ini terletak di Desa Aur Gading, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi. Jarak dari kota Jambi ± 120 km, bisa ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan. Dibandingkan dengan PKS yang lain milik PTPN VI, pabrik Aur Gading berada diluar lokasi perkebunan inti. Dan Unit Usaha yang terdekat adalah  Durian Luncuk (± 20 km),  Unit Usaha Batang Hari (± 40 km) serta Unit Usaha Bukit Cermin (± 70 km). Kendati tidak berada di dalam wilayah operasional kebun, PKS Aur Gading tetap mudah di akses melalui jalan lintas Sumatera, antara Muara Tembesi dan Sarolangun.

Luas seluruh lokasi pabrik 18,7 Ha. Luas ini ditempati oleh luas bangunan 2,9 Ha, luas untuk jalan 2,5 Ha, kolam limbah 2,3 Ha dan perumahan 0,7 Ha.

 

Pabrik Kelapa Sawit Aur Gading dirancang dengan sistem Vertical Sterilizer. Sistem ini memang menonjolkan tingkat efisiensi yang tinggi. Kecuali menghemat waktu dan tenaga, beberapa pos operasional yang biasanya merupakan rangkaian proses pada sistem Horizontal Sterilizer, dapat ditiadakan. Misalnya kebutuhan lori, hosting crane dan transfer carriage.

Bahruddin Tarigan, Manejer PKS Aur Gading mengatakan, pola perebusan TBS yang digunakan memakai pola  triple peak (tiga puncak). Jumlah puncak dalam pola perebusan ditunjukkan dari jumlah pembukaan atau penutupan uap masuk atau uap keluar selama proses perebusan berlangsung.

Uap yang digunakan berasal dari boiler. Proses perebusan berlangsung selama 90 menit (lebih cepat 20 menit dibandingkan sistem horizontal sterilizer). Tekanan uap sekitar 1,5 – 2,8 kg/cm3 dan suhu maksimal antara 130 -140° C.

 

Keunggulan lain dari sistem ini, pabrik tidak lagi membutuhkan lori rebusan.

“ Buah dari loading ramp di salurkan langsung ke stasiun rebusan menggunakan conveyor “ papar Bahruddin lagi  kepada kami sambil menunjukkan conveyor dimaksud.

 

Sementara itu, Kepala Pabrik PKS Aur Gading, Rahmat Saefuddin menjelaskan, komponen rail track, tippler dan transfer carriage yang biasanya digunakan dalam sistem horizontal, tentu menjadi bagian yang terputus dalam sistem vertical.

“ Karena banyak dari komponen mesin yang berkurang, maka luas bangunan mesin itu secara keseluruhan juga menjadi lebih kecil sekitar 50% “ jelasnya lagi. “ Otomatis biaya perawatan untuk komponen-komponen mesin jadi relatip lebih murah “ sebutnya kemudian.

 

Lebih jauh, Rahmat Saefuddin menjelaskan keunggulan dari sistem rebusan vertical ini antara lain : tidak menggunakan lori rebusan, tidak menggunakan capstan yang biasanya difungsikan untuk menarik lori, tidak menggunakan rol penuntun (bollard), tidak menggunakan rail track (bantalan jalan untuk lori), tidak menggunakan transfer carriage, tidak menggunakan tippler (alat untuk menuangkan buah dari lori ke conveyor), luas bangunan menjadi kecil karena komponen mesin banyak yang berkurang, sehingga biaya bangunan menjadi lebih murah serta biaya maintenance jauh lebih efisien.

 

Sumber Bahan Baku

 

Panjangnya antrian truk pengangkut TBS yang parkir di jalan pintu utama pabrik, membuktikan bahwa PKS Aur Gading mendapat pasokan buah sawit yang cukup. Memang menggembirakan. Kendati baru beberapa bulan dioperasikan, pabrik dan seluruh aktivitasnya telah mampu melahirkan denyut bisnis di Desa Aur Gading. Mampu membentuk sentra baru ekonomi masyarakat disekitarnya.

Zulfikar Sopang, Asisten Pengolahan & Pengawasan Mutu PKS Aur Gading mengakui, produksi yang diolah sampai Nopember 2012 mencapai 82.000 ton lebih dengan perincian kebun inti 47.000 ton dan dari pembelian TBS petani 35.000 ton. Itu berarti hanya dalam waktu 6 bulan dari pertama dioperasikan, setiap bulan ada pasokan TBS rata-rata 13.600 ton lebih.

“ Sejak dilakukan tes beban pada bulan Mei 2012 yang lalu, kami melihat pasokan TBS yang masuk ke pabrik memang cukup menggembirakan “ ucapnya dengan mata berbinar.

 

Sumber bahan baku memang menjadi perhatian utama PKS Aur Gading. Banyaknya antrian truk pengangkut TBS yang menunggu giliran masuk ke loading ramp, juga hal lain yang membuncahkan harapan. Tetapi mengkontrol mutu dan kwalitas TBS yang masuk, terutama milik petani, adalah sisi yang lebih penting.

 

Di Pabrik PKS Aur Gading, proses sortir buah sawit di loading ramp memang berjalan alot dan teliti. Tak pelak, dalam sehari petugas sortir menemukan sekitar 300 kg/truk buah sawit yang tidak layak olah. Buah tersebut masih mentah dan terlalu kecil, tidak memenuhi kriteria 8 kg per tandannya. Buah sawit seperti ini tentu tidak mengandung minyak (CPO).

 

“ Buah sawit yang tidak matang olah ini kita kembalikan ke pemasok ” sebut Zulfikar Sopang sambil memperlihatkan contoh buah dimaksud.

 

Sementara itu, Asisten SDM/Umum PKS Aur Gading, Herilanto mengaku bahwa pembinaan kepada pemasok TBS yang buah sawitnya tidak matang olah, terus dilakukan secara rutin. Tujuannya untuk menjaga kwalitas pasokan. Disamping itu, tentu untuk menjaga hubungan simbiosa yang harmonis antara manajemen dengan pemasok.

 

Menggadang-gadangkan harapan dengan kinerja optimal, tentu bukan hal yang tabu. Tetapi menjaga kontiunitas pabrik agar mampu menjadi penopang hidup perusahaan, pasti membutuhkan kesabaran dan perlu kerjasama yang baik. Kendati tidak berlokasi didalam kebun, PKS Aur Gading telah mengukir jalan menuju sukses dari seberang lahan. (Humas PTPN VI)