Disbun Akui Produksi Karet Menurun

118 Ribu Hektar Kebun Perlu Peremajaan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan penyadapan karet perdana (F:Ist)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan penyadapan karet perdana (F:Ist)

JAMBI-Pihak Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi mengakui penurunan produksi getah karet di kebun masyarakat Penyebabnya yakni terdapat 118 ribu hektar tanaman karet tua milik rakyat yang kondisinya sudah kritis. “Ya memang ada penurunan produksi,” kata Kepala Disbun Provinsi Jambi, Tagor Mulia kemarin.  Dia mengatakan, kondisi tanaman karet yang sudah tua dan tidak produktif ini terutama terjadi di kebun karet eks-eks plasma seperti di Batin, Rimbo Bujang dan Margalen.

Bahkan menurut dia, petani sudah menyadap karetnya hingga sampai ke dahan. “Artinya tetesan lateks ke bawah sudah mencar-mencar ke mana-mana. Jadi ini sudah tidak produktif lagi. Jika ini dibiarkan terus, tentu pendapatan petani semakin hari semakin menurun,” ujarnya. Solusi masalah ini, jelas dia, yakni harus dilakukan rehabilitasi dan melakukan replanting. Saat ini yang paling mendesak untuk diremajakan yakni seluas 118 ribu hektar. “Yakni di Kabupaten Muarojambi, Batanghari, Tebo, Bungo juga di Sarolangun dan Merangin,” tambah Tagor.

Dia menjelaskan, saat ini total luasan kebun karet di Provinsi Jambi lebih kurang 650 ribu hektar. Namun dari sekian banyak tanaman karet itu, karet unggul baru mencapai 30-35 persen. “Sisanya yakni karet hutan, karet tua dan karet yang sudah tua dan tidak produktif lagi,” terangnya. Saat ini pihaknya masih mengupayakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Mudah-mudahan ini ke depan akan terus kita tingkatkan bagaimana meremajakannya,” kata Tagor.

Tagor mengklaim, di perubahan ABPD 2011 ada dana untuk meremajakan sekitar 1.500 hektar dan prosesnya sedang berjalan. Lalu di APBD murni 2012 juga ada sekitar 2.500 hektar. “APBN murni juga ada 2.000 hektar. Belum lagi dari perluasan areal dari Dirjen sarana melalui dana tugas pembantuan di kabupaten-kabupaten. Kita memang upayakan semua. Dari pintu ke pintu mencari dana di pusat agar mengalir dana dari APBN ke daerah kita,” bebernya.

Apalagi, lanjut dia, pengembangan karet dan kelapa sawit di Provinsi Jambi sudah masuk dalam koridor pembangunan ekonomi di Pulau Sumatera, yakni Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). “Kebetulan juga pada beberapa bulan yang lalu Presiden juga mendukung pengembangan karet di Provinsi Jambi. Itu tandanya beliau bersedia menyadap karet dengan 10 menteri. Ini suatu pencerahan bagi Provinsi Jambi, bahkan bagi nasional,”  ujarnya. (Reporter:Anton)

Sumber : metrojambi.com

Leave a Response

Please note: comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.