Berita

RI Yakinkan Rusia Soal CPO Berkelanjutan

IT Team | Senin, 07 Agustus 2017 - 10:01:27 WIB | dibaca: 136 pembaca

Jakarta, Indonesia meyakinkan Rusia mengenai produk minyak kelapa sawit yang mengutamakan prinsip keberlanjutan. Negeri Beruang Merah sejauh ini belum menjadi pasar utama CPO Indonesia mengingat hanya menyerap 2,6% dari total ekspor Indonesia.

Langkah itu dilakukan di sela-sela Indonesia-Rusia Business Forum on Palm Oil pekan lalu yang diikuti Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami, perwakilan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Masyarakat Perkelapasawitan (Maksi), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), serta perwakilan dari beberapa perusahaan sawit, seperti Musim Mas, Permata Hijau, Asian Agri, Wilmar, dan Sinar Mas.

Mengutip siaran pers BPDPKS, Minggu (6/8/2017), Menteri Enggartiasto mengatakan semua produk sawit Indonesia, mulai penanaman hingga produksi hilir, telah mengikuti standard Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO), Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), dan International Organization for Standardization (ISO).

“Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus memastikan penerapan prinsip-prinsip sustainability dalam setiap aspek produk sawit Indonesia,” katanya.

Enggartiasto bahkan mengundang lembaga riset dari Universitas Moskow serta para pengusaha Rusia untuk datang ke Indonesia dan melihat pengelolaan produk sawit sejak penanaman. Menurut dia, pengelolan industri minyak sawit Indonesia pun berpedoman pada praktik agraria yang baik (good agricultural practices).

Sejak 2011, Indonesia telah membuat regulasi ISPO yang bersifat mandatori bagi semua perusahaan, sebagaimana komitmen Indonesia untuk mengikuti protokol kesepakatan yang telah ditandatangani dalam COP 21- Paris tentang pengurangan emisi gas rumah kaca, khususnya dari sektor perkebunan.

Upaya serius di bidang keberlanjutan itu juga berupa zero waste management dengan memanfaatkan POME (palm oil mill efluent) untuk bahan bakar energi biomassa ataupun pupuk organik.

Pada forum itu, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Rusia M. Wahid Supriyadi menyampaikan tujuan dari Forum Bisnis Untuk Sawit ini didasarkan pada fakta Rusia merupakan mitra perdagangan Indonesia yang potensial untuk CPO.

Ekspor minyak sawit ke Rusia pada 2016 sebanyak 663.000 ton dengan nilai US$440 juta. Adapun total volume pengapalan ke pasar dunia tahun lalu 25,1 juta ton.

“Ekspor minyak sawit Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun serta potensinya masih sangat besar untuk ditingkatkan,” kata Wahid.

Dirut BPDPKS Dono Boestami menjelaskan, dalam konteks perubahan iklim dan komitmen nasional masing-masing negara untuk menurunkan emisi rumah kaca, kelapa sawit menjadi salah satu solusi yang menjanjikan untuk pengembangan energi baru dan terbarukan. Seperti diketahui, Indonesia harus menurunkan emisi 29% dari business as usual pada 2030 dan Rusia 25%-30% di bawah emisi 1990.

“Beberapa negara telah melirik dan mempergunakan biodiesel dari kelapa sawit sebagai bagian dari energy mix untuk mengurangi ketergantungan pada fossil fuel,” ujar Dono.

Dia mengajak akademisi Rusia, termasuk Medvedev dari Universitas Moskow yang telah mengeluarkan hasil riset terkait aspek kesehatan dari minyak sawit, untuk bekerja sama dalam riset mengenai produk-produk sawit.

Gregory Ryabtsev dari Asosiasi Minyak Sawit Rusia mengakui proses produksi di pabrik CPO dan minyak goreng di Indonesia beserta proses pengapalannya cukup bersih. Dia meyakini produk sawit Indonesia berasal dari industri yang kredibel, taat aturan dan mengikuti standard internasional.

Pada kesempatan yang sama, Dewan Minyak Sawit Indonesia dan pengusaha minyak sawit Rusia menandatangani memorandum of cooperation (MoC) untuk meningkatkan perdagangan kedua negara dan memperluas promosi serta diseminasi informasi produk sawit Indonesia di Rusia.

“Perdagangan minyak sawit Indonesia dapat meningkat dua kali lipat dalam satu sampai dua tahun ke depan,” ujar Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : BISNIS INDONESIA





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)