Berita

Harga Karet Tertekan Saat Defisit Pasokan, Ini 3 Penyebabnya

IT Team | Rabu, 14 Juni 2017 - 15:31:23 WIB | dibaca: 54 pembaca

Jakarta, Association of Natural Rubber Producing Countries (ANPRC) menyebutkan tiga faktor yang menekan harga karet global ialah fluktuasi mata uang, mendinginnya harga minyak mentah, dan perkembangan risiko geopolitik.

Pada perdagangan Rabu (14/6/2017) di bursa Tokyo, harga karet kontrak November 2017 meningkat 9,3 poin atau 5,02% menjadi 194,50 yen (US$1,76) per kg. Sepanjang tahun berjalan, harga masih merosot 19,58%.

Dalam siaran persnya, Selasa (13/6/2017), Sekretaris Jenderal ANPRC Nguyen Ngoc Bich menyampaikan harga karet alam di seluruh pasar fisik utama mangalami kerugian lebih lanjut pada pekan terakhir Mei 2017. Padahal masih terjadi defisit pasokan global.

Berdasarkan estimasi awal ANPRC, defisit pasokan karet alam pada Januari 2017—Mei 2017 hampir mencapai 600.000 ton. Bahkan, tren tersebut dapat melebar menuju 700.000 ton pada pengujung tahun Juni 2017.

Pada 2017, pasokan global diperkirakan mencapai 12,75 juta ton, atau sedikit lebih rendah dari estimasi bulan lalu sejumlah 12,71 juta ton. Penurunan proyeksi suplai baru terjadi akibat para petani yang mengantisipasi harga karet yang cenderung menurun.

“Harga fisik karet alam yang didominasi sentimen di pasar Shanghai dan Tokyo Commodity Exchange (TOCOM) rentang terhadap fluktuasi mata uang. Selain itu, harga karet tertekan oleh mendinginnya harga minyak mentah dan perkembangan risiko geopolitik global.,” jelas Nguyen.

Sejumlah analis menunjukkan tren bearish harga karet alam sebagian besar disebabkan volatilitas harga minyak mentah yang tak terduga. Apresiasi tajam terhadap mata uang yuan dan yen juga memengaruhi selera pasar.

Ekspektasi dari investor spekulatif perihal penaikan suku bunga AS pada Juni 2017 turut menjadi kendala utama bagi pemulihan komoditas di Asia, termasuk karet alam. Pengamatan ini menunjukkan harga karet semakin rentan terhadap faktor-faktor sampingan terlepas dari sisi permintaan dan penawarannya.

Sebagai informasi, ANRPC merupakan asosiasi negara produsen karet yang kini memiliki 11 anggota, yaitu Kamboja, China, India, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Kesebelas negara ini menyumbang sekitar 90% produksi karet alam dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : BISNIS





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)