Berita

58% CPO Bersertifikat Berkelanjutan di Dunia dari Indonesia

IT Team | Jumat, 27 Januari 2017 - 10:56:20 WIB | dibaca: 247 pembaca

Jakarta, Republik Indonesia berkontribusi 58% dari produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan di seluruh dunia, dan diharapkan jumlah tersebut dapat terus meningkat pada masa mendatang.

Direktur RSPO Indonesia Tiur Rumondang memaparkan, produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan yang telah mendapat sertifikat RSPO secara global saat ini mencapai 12,15 juta ton, atau 17%  dari total produksi minyak kelapa sawit dunia.

Namun begitu, ujar dia, penyerapan minyak kelapa sawit berkelanjutan di dalam negeri masih tergolong minim. "Karena permintaan konsumen di Indonesia juga dinilai masih rendah," ujarnya dalam siaran pernya Kamis (26/1/2017).

Sebelumnya, volume ekspor minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan turunannya pada 2016 mencapai 25,7 juta ton atau turun sekitar 2% dibanding 2015 yang mencapai 26,2 juta ton karena dipengaruhi fenomena cuaca El Nino pada akhir 2015.

"Pada akhir 2015, produksi buah sawit menurun akibat kekeringan El Nino selama 2015. Dari segi volume ekspor memang turun dua persen karena produksi juga menurun sekitar 7% - 30%," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit Bayu Krisnamurthi pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/1/2017).

Bayu menjelaskan meski volume eskpor CPO, minyak kelapa sawit kernel (PKO) dan turunannya menurun 2%, nilai ekspor sawit 2016 mencapai US$17,8 miliar atau sekitar Rp240 triliun atau naik 8% dibanding  2015 yang hanya mencapai US$16,5 miliar atau sekitar Rp220 triliun.

Kenaikan nilai eskpor ini disebabkan oleh kenaikan harga CPO global sebesar 41,4%  sepanjang 2016, dengan perbandingan harga CPO pada Juni 2015 sebesar US$535/ton, Januari 2016 sebesar  US$558/ton dan Desember 2016 mencapai US$789/ton.

Namun demikian, BPDP mengingatkan agar eksportir jangan sampai lengah dengan harga CPO terakhir yang dinilai terlalu tinggi tersebut karena bisa mengurangi daya saing Indonesia di pasar minyak nabati secara keseluruhan.

"Kita tahu minyak sawit Indonesia itu bersaing dengan minyak kedelai sehingga kalau harga minyak sawit terlalu dekat dengan harga kedelai, maka daya saing kita menurun," katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : BISNIS





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)